2 Atau 3 Orang Berkumpul: Bagaimana?

Tulisan ini berkaitan dengan 2 topik saat teduh yang sudah saya tulis sebelumnya: 2 Atau 3 Orang Berkumpul: Mengapa? & 2 Atau 3 Orang Berkumpul: Kapan & Dimana?

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Kisah Para Rasul 2:44-45

Ayat di atas menceritakan kepada kita bagaimana mereka hidup sebagai orang-orang percaya. Ada hal yang menarik perhatian saya dari ayat tersebut: dikatakan bahwa mereka “… membagi-bagikannya sesuai dengan keperluan masing-masing.”

Perhatikan kata-kata: “sesuai dengan keperluan masing-masing“.

Muncul pertanyaan, bagaimana mereka bisa membagi-bagikan sesuai dengan keperluan masing-masing?

Tentu saja karena mereka tahu kebutuhan orang lain! Lalu, bagaimana mereka bisa tahu?

Tidaklah mudah untuk mengenal apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Tentu tidak mudah juga bagi sebagian (atau sebagian besar) orang untuk  menceritakan kepada orang lain apa yang menjadi kekurangan atau kebutuhan dia. Hanya dengan orang dekatlah kita bisa saling tahu apa yang menjadi kebutuhan masing-masing.

Jadi apa yang terjadi pada jemaat yang mula-mula sungguh luar biasa: mereka membagi-bagikan sesuai dengan kebutuhan mereka! Mereka bisa melakukaan itu tentu saja karena mereka hidup dalam hubungan, kekeluargaan & persaudaraan yang erat! Itulah persekutuan yang sejati!

 

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu…..”

Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa mereka dipersatukan semata-mata hanya karena mereka percaya kepada Kristus, dan bukan karena hal lain seperti organisasi, denominasi, sinode, label, aliran, golongan atau hal lain-lainnya.

Sungguh, sangat jauh dengan apa yang terjadi hari ini. Jemaat mula-mula tidak memiliki organisasi tapi memiliki persekutuan yang erat. Sebaiknya hari ini banyak orang memiliki organisasi tapi tidak memiliki persekutuan yang erat.

 

Jadi hal paling mendasar mengapa mereka tetap bersatu dan berbagi hidup adalah karena mereka sama-sama telah menjadi percaya. Tentu bukan berarti di antara mereka tidak ada perbedaan, tetapi ini yang harus kita teladani dari mereka:

Kamu orang percaya, saya orang percaya, berarti kita adalah keluarga, satu di dalam Kristus!

Amen!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *